Melepas Bambang Pamungkas Tanpa Suksesornya

Melepas Bambang Pamungkas Tanpa Suksesornya

Melepas Bambang Pamungkas Tanpa Suksesornya

Agen Judi Bola Online –¬†Jakarta – Prosesi melepas Bambang Pamungkas di Stadion Gelora Bung Karno (SUGBK) rampung semalam. Di usia 39 tahun, dia pergi dari liga sepakbola Indonesia tanpa meninggalkan penerus.

Tribune GBK bereaksi pada Selasa (17/12/2019) menit ke-76 saat Persija Jakarta menjamu Persebaya Surabaya di lanjutan Liga 1 2019. Jakmania mengangkat poster, dengan tulisan Bepe 20, nama dan nomor punggung jersey yang identik dengan striker asal Salatiga itu. Persija sedang mengejar gol saat itu, Bepe menggantikan Sandi Suthe.

Sebuah perpisahan spesial. Pas di akhir musim, pas saat Persija menjamu musuh bebuyutannya, Persebaya.

Tapi, sayang buat Persija dan Bepe, laga pamitan Bepe tak berakhir manis. Macan Kemayoran dijinakkan oleh Bajul Ijo 1-2. Gol Osvaldo Haay dan Diogo Campos cuma bisa dibalas sekali lewat penalti Marko Simic.

Saat peluit panjang, Jakmania tak lekas meninggalkan tribune. Seluruh skuat Persija juga berbaris, untuk memberi tepuk tangan untuk Bepe, sembari mengenakan kaos dengan tulisan ‘Terima kasih, Bepe. Laga Pamungkas’.

Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan, juga turut melepas Bepe, Bepe memiliki arti penting untuk tim ibu kota. Juga bukti melalui kontribusinya saat Persija juara liga 2001 dan 2018.
Love and Hate Bambang Pamungkas

Dua dekade Bepe menjalani karier sebagai pesepakbola, pasang-surut dialaminya. Dalam sambutannya di GBK, dia mengungkapkan kejayaan dan juga keterpurukan selama memperkuat Persija.

“Saya pernah merasakan menjadi pemain terbaik di sini. Saya pernah menjadi top scorer di sini. Saya juga pernah juara di sini,” kata Bepe di hadapan puluhan ribu Jakmania.

“Namun demikian, saya juga pernah patah kaki di sini. Saya pernah depresi di sini, dan saya pernah dianggap pengkhianat di sini. Namun, dengan segala kondisi yang saya alami kalian semua tetap berada di belakang saya. Dan untuk itu saya ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya dari lubuk hati yang paling dalam,” demikian kata Bepe merangkum.

Lulus dari Diklat Salatiga pada 1999, Bepe menjadi salah satu striker yang menjanjikan. Gol perdana Bepe untuk Timnas Indonesia ke gawang Lithuania menjadi panggung dia. Pertandingan persahabatan pada 2 Juni 1999 itu selesai 2-2.

SEA Games 1999 menjadi momen ‘perkenalan’ Bepe dengan pecinta sepakbola Indonesia. Bepe, yang masih belia, bekerja sama dengan pemain berpengalaman seperti Rochy Putiray dan Widodo Cahyono Putro. Bepe mencuri perhatian dengan membukukan dua gol saat bermain di Brunei Darussalam.

Persija menjadi klub yang beruntung mendapatkannya. Bepe, yang baru berusia 21 tahun, membayar tuntas kepercayaan Macan Kemayoran. Dia berkontribusi signifikan mengantarkan Persija menjadi juara Liga Indonesia, bahkan juga dinobatkan menjadi pemain terbaik.

Gelar itu menjadikan nama Bepe harum di kalangan Jakmania, apalagi dia membawa Persija buka puasa gelar setelah 22 tahun. Bahkan setelah harus pindah ke Selanggor FA pada 2005, Bepe pun diterima kembali dengan tangan terbuka oleh Persija saat memutuskan untuk pulang pada 2007.

Puncak konflik Bepe dengan Persija terjadi pada 2013/2014. Bepe memutuskan untuk pindah ke Pelita Bandung Raya, karena konflik dengan manajemen Persija terkait tunggakan gaji. Dia bergeming meski harus menyandang label pengkhianat dari sebagian Jakmania.

Tapi, rasa cinta Bepe untuk Persija memang terlalu besar. Dia kembali lagi ke Jakarta, untuk dilatih oleh Rahmad Darmawan. Bepe tak pernah pergi lagi, hingga mampu mempersembahkan gelar juara Liga 1 2018.

Usai mengantarkan Persija juara Liga 1 2018 setelah berbagai pasang surut kariernya, satu polemik lain menerpa Bepe. Itu terjadi pada 5 November 2019 atau kurang dari dua bulan sebelum Bepe pensiun semalam.

Saat itu , Bepe ‘diserang’ setelah dia mengunggah tulisan mengenai ‘Bermain untuk Keluargamu’. Bepe diminta pergi, para pemain Persija lainnya pasang badan dengan mengunggah foto bersamanya.

Bepe merespons dengan turut menyelamatkan Persija si juara bertahan itu dari degradasi. Perannya memang tak banyak di lapangan, dia menjadi penyemangat dari bench. Selepas misinya berhasil, dia pun menggantung sepatu.
Bepe dan Rekor di Timnas Indonesia

Bepe merupakan salah satu pemain yang awet di Timnas Indonesia. Selama 13 tahun, dia menjadi anggota skuat Garuda.

Bepe sudah membela Timnas sejak usia SMA, pada 18 tahun. Dia mencetak gol pertama pada pertandingan persahabatan Indonesia dengan Lihuania. Laga pada 2 Juni 1999 selesai 2-2.

Sejauh ini, Bepe masih menjadi pemegang rekor sebagai pemain yang paling banyak tampil untuk Timnas. Ada 86 pertandingan yang dijalani oleh Bepe, dengan sumbangan 38 gol.

Bukan tanpa alasan Bepe menjadi pilihan utama di Timnas Indonesia selama lebih dari satu dekade. Dia merupakan putra terbaik di Indonesia untuk pos penyerang tengah.

Dengan tinggi yang sekitar 170 centimeter, Bepe jago dalam duel udara. Bepe juga piawai tajam dengan kaki-kakinya.

Tips Bepe untuk mengasah lompatan bahkan menjadi perbincangan di era 2000-an. Mengakali kondisi lapangan tempatnya berlatih, Bepe menggunakan dua bola tenis untuk melatih lompatan.

Gol-gol Bepe itu tak cukup untuk memberinya gelar juara bersama Timnas. Sedikitnya tujuh turnamen diikuti Bepe bersama Timnas. SEA Games 1999, Piala Tiger 2002, Piala AFF 2010, dan Piala AFF 2012 merupakan deretannya.

Piala AFF 2012 merupakan turnamen resmi terakhir Bepe bersama Timnas. Saat itu, Indonesia sedang terjadi dualisme. Meski mendapatkan larangan bergabung Timnas dari Persija dan Komite Penyelamat Sepakbola Indonesia, Bepe memantapkan niat untuk membela tim Merah-Putih.

Tapi menjadi penyerang andal tak cukup bagi Bepe untuk merasakan gelar juara bersama Timnas. Jarak terdekat Bepe dan Timnas dengan gelar juara terjadi pada Piala AFF 2010. Sudah sampai di final, Indonesia akhirnya gagal juara setelah ditaklukkan Malaysia. Bepe tanpa gelar bersama Timnas Indonesia.
Bepe Legenda, Bepe Inspirasi

Pengumuman pensiun Bepe dianggap sebagai sebuah kehilangan oleh banyak pesepakbola lain. Salah satunya adalah Andik Vermansah, yang juga sama-sama berjuang di Piala AFF 2012.

“Pemain sangat bijak dan layak menjadi panutan buat seluruh penerus sepakbola indonesia. Dan saya berharap atau angan-anganku suatu saat atau entah kapan sampean @bepe20 menjadi pemimpin sepakbola Indonesia. Terimakasih jasanya legend @bepe20,” tulis Andik di akun @andikvermansah sembari mengunggah foto mereka di Piala AFF 2012.

Bukan hanya sesama pemain yang menjadikan dia panutan, Bepe dianggap sebagai salah satu alasan suporter Timnas dan sepakbola nasional, termasuk teman saya, gandrung dan setia menyaksikan laga-laga Timnas dan Liga Indonesia.

Faktanya, Bepe, dengan tandukan dan kaki-kakinya, bisa menembus persaingan striker tengah di Liga Indonesia, yang notabene didominasi oleh pemain-pemain asing.

Saya ikut berharap Bepe tak hanya menjadi inspirator Andik, namun juga mengilhami pesepakbola muda. Untuk membuat banyak gol, juga kukuh memperjuangkan posisi utama sebagai penyerang tengah dalam berbagai macam persaingan.

Seperti Bepe yang terinspirasi oleh seniornya dan dikisahkan dalam tulisan di blog dan Instagram pribadinya pada 12 Oktober 2019. Mimpi Berbahaya, begitu Bepe memberi judul.

“Pada suatu siang di pertengahan tahun 96 di asrama Diklat Salatiga, saya melihat sebuah goresan tinta pulpen di dipan (tempat tidur kayu bertingkat) bertulis ‘Kurniawan Was Here’,” tulis Bepe.

“Seketika dalam hati saya berkata, “Suatu saat nanti saya akan bermain bersama dia (Kurniawan) di Tim Nasional Indonesia,” dia menambahkan,

Sejak itu, Bepe berusaha keras mewujudkannya. Sebuah jalan terbuka untuknya dengan bermain di turnamen yang sama di ajang Piala Asia Lebanon 2000 dan Pra Piala Dunia 2001, dan dia tak tergantikan di Timnas, sebagai kapten dan striker, hingga mengenakan jersey dengan nama punggung Pamungkas sebagai tanda yang terakhir untuk Timnas.

Kini, kita cuma bisa berharap setelah tak ada lagi Bepe di Liga 1, PSSI dan stakeholder sepakbola Tanah Air lain serius menciptakan sosok tangguh di posisi itu, bukan hanya berjudi dengan cara naturalisasi. Sebuah harapan muncul di kaki-kaki Amiruddin Bagus Kahfi Alfikri dan Sutan Diego Armando Zico. Dua pemain itu yang akan menjadi tumpuan saat Piala Dunia U-20 digelar di Indonesia pada 2021, semoga awet seperti Bepe, menjadi pilihan utama klub, sempat tak tergantikan di Timnas, juga menginspirasi pemain dan dicintai suporter.